Wednesday, January 04, 2012

Mengapa Harus Bayar Hanya Untuk Memotret...?!

Pernah suatu sore, kami sekeluarga maen ke Mall Eastcoast yang terletak di kawasan Laguna (Surabaya Timur). Kita semua tau kan' Laguna Indah tuh kawasan perumahan kelas atas yang tertata rapi, asri dan tentu saja memiliki view yang indah. Sebagai penggemar fotografi, tentu saja tangan saya gatal untuk jeprat-jepret. Apalagi, saat itu kami bawa beberapa keponakan yang masih kecil-kecil, bisa jadi obyek foto gratis yang sayang untuk dilewatkan. Tetapi, pas lagi asyik-asyiknya memotret, tiba-tiba muncul security yang berniat mengusir kami dengan memperingatkan bahwa di lokasi perumahan tersebut dilarang memotret tanpa ijin. Walah, baru tau!!!

Di hari lain, pas kebetulan ada janji ama seorang teman di pusat perbelanjaan Supermal, saya sengaja parkir di area rooftop. Saat itu senja hari, lampu-lampu di kawasan Bukit Darmo Boulevard udah mulai menyala, sementara langit belum gelap meskipun matahari udah tenggelam. Seperti biasa saya mulai tergoda untuk menjepret dengan kamera DSLR saya. Sayapun segera bersiap-siap pasang tripod dan mengarahkan lensa ke kawasan Lenmarc yang ketika itu tampak gemerlapan. Eh, tiba-tiba muncul satpam yang berlari-lari kearah saya. Dengan tergopoh-gopoh, satpam itu meminta saya untuk tidak memotret tanpa ijin. Sedikit lebih sopan dibanding cara satpam yang di Laguna, tetapi tetap saya sangat tersinggung.

Belakangan saya baru tau, bahwa ada lokasi-lokasi tertentu di mana kita tidak diijinkan memotret kalo gak bayar. Wow, heran juga... Gimana bisa kita diharuskan membayar hanya untuk memotret, apalagi memotret dengan kamera milik sendiri.

Ketika iseng-iseng browsing di internet, saya menjadi lebih tau banyak, ternyata banyak banget tempat-tempat di pelosok kota Surabaya ini yang sudah dikomersialkan. Artinya, kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mengabadikan gambar dengan kamera. Dan tarifnya tentu saja gak bisa dianggap sepele. Mahal banget...., ratusan ribu bahkan jutaan.

Saya gak tau pasti, sejak kapan trend tersebut dimulai. Karena hobby fotografi saya kambuh juga baru-baru aja. Tetapi mari kita telusuri asal-usulnya...

Seperti yang kita tau, bisnis fotografi akhir-akhir ini sedang subur-suburnya. Kebutuhan orang untuk mengabadikan momen-momen penting seperti wedding, pre-wedding, ulang tahun bahkan hanya untuk sekedar foto single maupun couple sedang tinggi-tingginya. Banyak perusahaan maupun fotorafer perorangan penyedia jasa fotografi bermunculan, dari yang ecek-ecek sampai yang pro. Beberapa dari mereka memang memiliki skill dan naluri fotografi yang extra-ordinary dengan hasil karya yang menakjubkan.

Kalo kita simak, nilai honor yang dipatok sang fotograferpun dari masa ke masa semakin fantastis. Dulu waktu jamannya saya menikah, budget beaya dokumentasi mencapai 10% dari keseluruhan total beaya pernikahan sudah termasuk lampu merah. Sekarang, belasan bahkan puluhan jutapun orang mau bayar hanya untuk mengabadikan momen-momen tertentu ke dalam bentuk foto.

Akan tetapi, kalo kita mau jujur, keindahan sebuah foto tidak bisa lepas dari yang namanya lokasi pemotretan yang menjadi latar belakang sebuah hasil karya foto. Menurut opini saya, pihak pemilik venue yang biasa dijadiin lokasi pemotretan tentu saja merasa gak rela si fotografer meraup untung yang jumlahnya dari masa kemasa semakin gak masuk akal, sementara meraka hanya gigit jari aja. Tentu saja mereka juga merasa, lokasi pemotretan juga memliki nilai yang harusnya include pada hasil karya sebuah foto. Maka, lahirlah bisnis komersialisasi lokasi umum untuk acara pemotretan.

Namun yang sangat disayangkan, gerakan komersialisasi ini udah sangat mengkhawatirkan. Saya pernah coba survey di sebuah coffee shop kelas rata-rata yang terletak di sebuah lokasi perbelanjaan kecil di kawasan Surabaya Selatan. Mereka mematok Rp.500.000,- bagi para tamu hanya untuk sekedar memotret.

Saya warga Surabaya, saya cinta kota Surabaya ini dan tentu saja saya memiliki keinginan untuk mengabadikan keindahan setiap sudut kota saya ini ke dalam sebuah foto lewat kamera saya sendiri. Ada kebanggaan saat kita melihat hasil karya foto kita sendiri, meskipun tidak seindah karya para fotografer terkenal dan tentu saja jauh dari yang namanya komersialitas.

Tetapi, apa jadinya jika nanti setiap tempat indah di kota ini memiliki price list masing-masing?
»»  Silakan baca kelanjutannya

Sunday, October 16, 2011

Mengatasi Error di Blogger

Semula saya panik ketika akun Blogger saya tidak bisa diakses lagi. Setiap log in, pasti kode galat bX-u5aad6 yang saya temukan, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.


Setelah browsing kesana kemari di Google, akhirnya saya mendapat jawabannya. Hal ini disebabkan karena Blogger telah mengadakan perubahan tampilannya dengan user interface yang baru. Meski demikian, Blogger memberi kebebasan kepada para user-nya yang masih suka dengan tampilan lama, cuman sudah tidak lagi support Bahasa Indonesia.

Akun Blogger saya kebetulan menggunakan Bahasa Indonesia, dan itulah yang membuat akun saya error dengan kode galat bX-u5aad6.

Cara mengatasinya adalah dengan mengubah settingan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Inggris melalui Blogger in Draft. Situs tersebut sebenarnya adalah semacam laboratorium tempat Blogger mengembangkan fasilitas-fasilitas terbaru sebelum dipublikasikan. Setelah log in menggunakan username dan password Blogger kita, selanjutnya kita akan menemukan tampilan terbaru Blogger, seperti yang bisa kita lihat pada gambar di bawah ini.



Setelah, diubah menjadi Bahasa Inggris, dijamin akun Blogger kita bisa diakses kembali. Jika kita masih suka dengan user interface Blogger yang lama, kita bisa tetap mempertahankannya dengan catatan tidak support Bahasa Indonesia. Tetapi jika kita ingin mengupgrade ke user interface yang baru, tinggal klik tulisan Try the update Blogger interface di sebelah kanan atas.

Semoga membantu...
»»  Silakan baca kelanjutannya

Monday, May 16, 2011

Mengapa Hanya Ada Istilah "BROTHERHOOD", Tetapi Tidak Dikenal "SISTERHOOD"

Bingung dengan judul artikel di atas? Mari kita cari jawabannya...

Ada artikel di salah satu majalah di Amerika Serikat yang isinya sangat lucu dan menarik. Artikel tersebut berbunyi:

"Suatu malam, seorang wanita tidak pulang ke rumahnya. Esok harinya dia memberitahu suaminya bahwa dia menginap di rumah teman wanitanya. Suaminya menelepon 10 orang teman istrinya yang paling akrab, dan hasilnya tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui tentang itu.

Sebaliknya, suatu malam seorang pria tidak pulang ke rumahnya. Esok harinya, dia memberitahu istrinya bahwa dia menginap di rumah seorang temannya.

Istrinya menelepon 10 orang teman suaminya yang paling akrab, dan hasilnya: 8 orang diantaranya memastikan kalau suaminya menginap di rumah mereka, dan ....... 2 orang lainnya bahkan mengatakan bahwa suaminya MASIH berada di rumah mereka!"

Merasa hal itu sangat menarik, seorang suami yang membaca artikel ini segera menunjukannya pada istrinya yang kemudian juga membacanya. Tak disangka, istrinya yang penasaran malah ingin mengetes apakah apa yang ditulis di artikel ini benar.

Sang suami berusaha mencegahnya tapi ia tidak menggubrisnya. Akhirnya si istri menelpon satu persatu teman akrab suaminya, menanyakan apakah suaminya bersama mereka. Dan hasilnya?

Apa yang ditulis dalam artikel tsb ternyata benar berlaku di seluruh pelosok dunia!

Yang lebih parah, ada salah satu teman suaminya yang malah mengatakan bahwa suaminya mabuk dan sampai sekarang masih tidur di dalam rumahnya.

Dia malah bertanya kepada sang istri itu apakah suaminya perlu dibangunkan untuk berbicara di telepon? Si istri kaget dan tidak mau membuat malu teman suaminya dan berkata, "Sudahlah nggak apa-apa."

Begitu sang istri menutup telepon, handphone suaminya langsung berdering dan ternyata telpon itu dari teman suaminya yang berkata,

"Dimana kamu? Cepat pulang ke rumah! Istrimu mencari kamu dari tadi.

Saya bilang kamu mabuk di rumah saya. Oh ya! jangan lupa minum sedikit bir sebelum pulang...
»»  Silakan baca kelanjutannya

Thursday, April 28, 2011

Jenderal Guan Yu versinya Donnie Yen

Sesuai jadwal yang saya dapet dari website resmi-nya, hari ini adalah tanggal release film terbaru Donnie Yen, yang berjudul The Lost Bladesman.

Bukan apa2 sih, selain ngefans berat ama Donnie Yen, saya juga penasaran banget menyaksikan penampilan aktor laga yang satu ini saat memerankan tokoh Guan Yu dalam film tersebut.

Bagi yang pernah menyimak kisah Samkok (Romance of The Three Kingdoms), pasti tokoh Guan Yu ini sudah tak asing lagi. Beliau adalah jenderal besar yang terkenal karena kegagahan, kejujuran dan kesetiaannya. Beliau adalah saudara angkat Liu Bei, raja kerajaan Shu, salah satu dari tiga kerajaan yang saling bertikai hampir seabad lamanya.

Tahukah kamu, kisah kepahlawanan Guan Yu ini, teladan keberanian dan kesetiaannya... membuat beliau dihormati dan dipuja sebagai dewa oleh masyarakat keturunan Cina. Patung sang jenderal banyak kita temukan di klenteng2 maupun tempat2 peribadatan etnis tionghoa lainnya.

Berdasarkan synopsis yang saya baca, Film The Lost Bladesman hanya memvisualisasikan sekelumit kisah kepahlawanan sang jenderal dalam chapter 26 dari buku Romance of The Three Kingdoms yang berjudul "Menerobos Lima Gerbang dan Membantai Enam Jenderal".

Nah, yang bikin saya penasaran, bagaimanakah penampilan sang aktor Donnie Yen yang selama ini terkesan klimis dan bersih dalam film2 sebelumnya (Ip Man dan Fist of Fury) menjadi garang dan kasar layaknya Jenderal Guan Yu.

Jika kita simak dalam buku2, lukisan2 maupun patung2 yang biasa kita temukan di tempat2 peribadatan, Guan Yu digambarakan sebagai seorang ksatria berpenampilan seram; tinggi besar, berwajah merah, alis tebal dan berjenggot panjang, sambil menghunus senjata andalannya, golok naga hijau. Coba bandingkan dengan penampilan sang aktor. Hehehehe...

Tapi, satelah saya coba simak2 lagi dalam buku yang pernah saya baca. Sebenarnya wajar saja sih... Kisah "Crossing Five Passes and Slaying Six Generals" terjadi sekitar tahun 200M. Belum saya temukan tulisan mengenai tahun kelahiran Guan Yu yang pasti. Tetapi Liu Bei, raja kerajaan Shu yang merupakan kakak angkat sang Jenderal lahir di tahun 161M. Jika Guan Yu seharusnya berusia lebih muda dari Liu Bei, berarti memang saat itu sang jenderal masih berusia muda (hampir seusia sang aktor mungkin).

Penasaran seperti saya? Silakan tonton film-nya...
»»  Silakan baca kelanjutannya

Sunday, April 24, 2011

Ketika Microsoft Menyandera Komputerku...

Coba bayangkan, apa yang ada dalam pikiran anda ketika tiba2 ada sekelompok orang datang ke rumah anda dan memberitahu bahwa tempat tinggal anda telah disusupi berbagai macam hama; tikus, rayap, semut, belalang dan berbagai macam serangga menjijikkan lainnya.

Kemudian, orang2 itu bergerak sigap mengisolasi semua jalan keluar rumah anda, sambil setiap menit memberikan peringatan,
"Saat ini rayap sudah menggerogoti tiang rumah sebelah belakang!!!"
"Tikus2 telah bersarang di bawah tempat tidur anda!!!"
"Makanan di kulkas anda telah digerogoti hama semut!!!"
Dan berbagai macam peringatan mengagetkan lainnya...

Mau keluar ataupun kabur dari rumah, sudah pasti tidak bisa. Jalan keluar telah dijaga ketat. Yang lebih bikin hati ini meradang, salah seorang dari mereka menawarkan bantuan berupa beberapa "Rescue Package" lengkap dengan daftar harga-nya.

Ibarat disandera di rumah sendiri neh ceritanya...

Nah, kira2 seperti itulah yang terjadi pada komputer saya hari ini. Saya gak gitu paham dengan hardware maupun software komputer. Saya juga kurang ngerti dengan sistem operasi. Tetapi apa yang dilakukan oleh pihak Microsoft ketika memaksa pemilik komputer untuk mem-purchase paket XP Internet Security 2011 sangat tidak hormat.

Lebih sadis dari bajak laut Somalia menurut saya. Masih untung, saya bisa lolos dan mengakhiri drama penyanderaan tersebut(hehehehe...).

Bagaimana pendapat anda?
»»  Silakan baca kelanjutannya