Monday, June 02, 2008

OUR WAY HOME

For we all seem to give our lives away
Searching for things that we think we must own
Until on this evening
When the year is leaving
We all try to find our way home...


Mungkin itu hanya sebuah lyric lagu yang aku gak gitu jelas siapa yeng pernah menyanyikannya. Tetapi aku ngerti banget arti sebuah kerinduan untuk pulang ke rumah.

Aku melewati masa kecil di kota Cepu, meskipun sebenarnya aku lahir di Surabaya. Sampai umur 5 tahun, aku tinggal di kediaman keluarga besar orang tua mama, bersama engkong dan emak (sebutan untuk kakek dan nenek), papa dan mama, engku (sebutan untuk paman - Hokkien) dan 3 orang pembantu. Sebuah rumah kuno yang sangat nyaman, sejuk dan penuh kenangan. Sebelum kemudian papa boyong kami sekeluarga ke rumah baru yang dibeli dari hasil tabungannya.

Tetapi, Cepu cuman sebuah kota kecil. Bagi kita kita, pindah rumah kayak pindah kamar aja. Aku masih tetap bisa berkunjung ke rumah emak dan engkong sewaktu-waktu. Bahkan, meski cuman dengan jalan kaki aja.

Di rumah baru itu, aku dan Philip, adikku satu2nya mulai dapet kamar pribadi sendiri. Setiap idola ato superhero, aktivitas dan hobby yang aneh2... dan segala sesuatu yang waktu itu datang dan pergi mewarnai hidupku bisa diliat gambarannya dari tempelan poster yang berjajar di dinding kamar kami; Ada gambar breakdance yang waktu itu lagi ngetrend di era pertengahan 80-an, lalu beberapa poster Bruce Lee sang idola dan kumpulan gambar karate yang mulai nampang saat aku aktif di Kyokushinkai. Terakhir, poster-poster balap motor dan motocross, menyusul saat aku sudah menginjak di bangku SMA.

Banyak teman dan saudara yang setia mengiringi dan menemani masa-masa kecilku. Jun Liem adalah satu-satunya the blood brother yang paling dekat denganku. Dia itu lebih dari seorang sahabat, aku selalu inget dia, karena dia ada di sampingku sejak SD hingga SMP. Dialah yang mengajari aku naik motor. Bersama dia pula aku mulai coba2 rokok, berantem bersama dan mulai lirik-lirik cewek bersama. Dan, saat-saat perpisahan dengannya adalah peristiwa yang paling mengharukan di bandingkan perpisahan dengan teman2ku lainnya. Waktu itu, Jun Liem mesti pindah ke Jakarta. Kerja sekaligus melanjutkan SMA-nya. Dia ditampung oleh saudara jauhnya, karena ortu-nya gak cukup mampu membeayai sekolahnya. Kami berdua benar-benar berpelukkan saling menangis kehilangan. Aku selalu ingat peristiwa itu.

Selain Jun Liem, ada Ronny, yang juga teman seperjuangan denganku sejak kecil. Dia juga sekelas denganku sejak SD hingga SMP. Meskipun tidak sedekat Jun Liem, tapi buat aku, Ronny ini teman yang sangat setia, dan selalu ada saat aku butuh dia. Di antara kami bertiga, dialah yang paling pengecut dan lebih banyak mengalah. Pengalaman yang paling tidak terlupakan bagiku adalah saat kami mabuk bertiga di malam Paskah akibat kebanyakan minum whiskey. Hehehe...

Kemudian ada Om Yong, saudara sepupu mama yang harus aku panggil ‘om’ meskipun usianya lebih muda dariku. Dia tinggal bersama mami dan papinya di depan rumah engkong. Om Yong ini, meskipun tidak terlalu dekat denganku, tetapi kami sebaya dan aku tumbuh bersama dia sejak balita.

Lalu, orang yang punya arti bagiku juga adalah engku, adik bungsu mama yang tinggal seatap dengan kami, saat masih di rumah besar. Aku menyaksikan engku-ku ini tumbuh dari masa remaja, dewasa dan menikah. Hingga bisnisnya maju, kemudian menjadi kaya. Engku termasuk orang yang punya gaya hidup high class. Dia hobby audio, hobby otomotif juga dan gemar menembak. Koleksi senapannya benar2 bikin aku kagum berat ama dia. Aku kerap ikut dia berburu, dulu. Sedikit banyak, style dan hobby-ku saat ini, terpengaruh oleh engku-ku ini.

Terakhir, teman yang sempat dekat denganku juga waktu itu adalah Leman. Sebenarnya, dia itu adik kelasku dan aku kenal dia waktu SMA. Kami ketemu pertama kali, pas adu balap motor di daerah Sambong (kawasan hutan jati antara Cepu dan Blora). Hobby kami yang waktu itu sama-sama keranjingan balap dan modifikasi motor, membuat kami merasa klop satu sama lain. Leman tinggal di Padangan, 3 kilometer ke timur kota Cepu. Dia dari keluarga single parent, karena kedua ortu-nya bercerai sejak dia masih belum lahir. Aku sering main ke rumahnya, dan cukup akrab juga dengan keluarganya. Bersama dia, aku sering berpetualang bersama, datang ke tempat-tempat baru yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi, naik motor, dan pasti ngebut. Hehehe...


Kini, hampir gak ada yang tersisa lagi untukku di Cepu

Emak yang semasa hidupnya paling sayang sama aku dan membuatku punya predikat sebagai cucu yang paling dicintainya, telah tiada sejak aku SMP. Demikian pula engkong.

My blood brother, Jun Liem telah hidup berkeluarga dan menetap di Jakarta, terakhir dia boyong mami dan adik-adiknya ke sana. Beberapa kali aku dolan ke rumahnya saat ke Jakarta. Kerasnya hidup di ibu kota dan pahitnya hidup saat dia masih miskin di Cepu, agaknya telah bikin dia mengubur kenangan masa kecil kami berdua.

Sementara, Ronny sekarang telah pindah ke Manado, ikut istrinya yang orang Manado dan tinggal di sana bersama mertuanya.

Om Yong, juga telah sukses di Jakarta, ikut koko dan cecenya. Sejak papinya tiada, mereka membawa serta maminya untuk tinggal serumah dengan mereka di sana. Terakhir aku dengar, rumahnya di Cepu sudah laku dijual.

Kemudian, kabar yang sangat bikin aku sedih, engku yang selama ini jadi idolaku, ternyata jatuh bangkrut dan terbelit hutang yang mungkin luar biasa gede. Sebagai pewaris rumah besar warisan keluarga, engku juga yang menyebabkan rumah tempat tinggalku di masa kecil yang penuh kenangan itu ikut tersita oleh pihak Bank.

Dan yang terakhir, Leman sahabatku saat masih jadi pembalap, dikabarkan tewas bunuh diri akibat problem rumah tangga yang mungkin udah gak sanggup lagi dia hadapi.

Mungkin aku masih bisa pulang ke Cepu. Bertemu dengan papa dan mama. Kemudian melangkah masuk ke ruang tengah. Dan saat mulai kubuka pintu kamarku perlahan, maka seluruh kenangan di masa lalu, manis maupun pahit, akan terputar ulang kayak rekaman film usang; Ranjang kami semasa kecil masih seperti dulu dan kini tidak ada yang menempati. Meskipun dinding kamar sudah bersih, tapi bekas noda lem dan isolasi buat nempelin poster-poster itu masih bisa aku raba... dan masih bisa kurasakan apa yang ada dalam pikiranku saat itu.

Sekali waktu, saat aku keliling kota, mungkin aku akan berhenti di seberang jalan, pas di depan rumah besar tempat aku menghabiskan masa kecil bersama engkong dan emak yang kini telah dibiarkan kosong, entah siapa yang punya sekarang. Warna cat dindingnya gak berubah, demikian juga pohon mangga di halaman samping, masih tetap ada di sana sejak aku belum lahir.

Rumah Jun Liem? Meskipun mungkin sudah gak ada yang tersisa lagi di sana, ada juga rasa kepingin untuk sekedar melihatnya. Rumah itu, sudah gak ada penghuninya. Kursi panjang di teras rumah, deket jendela tempat maminya dulu berjualan sudah gak ada lagi. Tapi, aku masih hafal betul letaknya. Di sanalah, tempat di mana kami berpisah dan saling menangisi sebelum Jun Liem berangkat.

Hampir gak ada yang tersisa lagi untukku di Cepu

Ada rasa kangen untuk pulang
Tetapi, banyak banget kenangan yang gak mungkin diulang.

2 comments:

Pangki Fernandes said...

Ternyata banyak juga kenangannya ya Ko. Terkadang jika kita coba kembali mengingat yg 'dulu', kita ingin kembali mengulangnya. Buat aku, sudah terlalu banyak kenangan yang harus aku buang, meski terasa sakit. Namun terkadang, kenangan yg ada itu membuat semangat aku bisa full.

Tape ttp keep contacy kan Ko sama mereka semuanya?

Anthony Harman said...

To Pangki Fernandes;
Thanks dah nyimak, Pangki. Ini postinganku waktu masih awal2 ngeblog. Gak nyangka Pangki masih nyempetin mampir kemari

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)