Monday, July 07, 2008

NO REASON TO GIVE UP

This diary is next page from 'If You're Not A Natural Born Salesman series' that I've posted before. I have change this title expressly, because I think it's too far to start my career from the beginning anymore. Salesmanship is a profession that God choose for me, definitely. No time for regret the limitations, no time for hesitancy...

Menjelang pertengahan tahun 2000, aku diterima kerja sebagai salesman di SANKEN. Bukan termasuk merek yang leading di dunia elektronik sih... Cuman aku senang, sekarang aku sudah kembali lagi di 'premiership', setelah dua tahun terlunta-lunta di 'liga-liga' yang gak jelas (He he he...).

Aku masih inget, pas pertama kali ketemu ama Branch Managernya, saat interview. BM muda itu bernama Freddy Kuam, aku sengaja tulis dengan jelas (tanpa nama samaran). Karena aku sangat mengaguminya dan aku berharap, siapa tau Freddy baca postinganku kali ini.

Sekilas tentang Freddy; Dia lahir di Medan (kalo gak salah...) dan besar di Jakarta. Usianya sebaya denganku. Dia keturunan Hokkien, istrinya orang Sunda asli, waktu itu dia udah punya satu orang baby cowok.

Freddy gak punya experience di bisnis elektronik. Kesempatan jadi BM dia dapet karena nepotisme, maybe... Celakanya, dia datang pada situasi yang gak tepat; menghandle brand produk yang gak menguntungkan saat itu, sendirian, dalam keadaan semua orang meragukan kemampuannya, memusuhinya (karena ada BM lama yang tersingkir oleh kehadirannya, sehingga membuat orang ini kepaksa dimutasi ke area laen)
And, yang lebih menyedihkan lagi, segenap salesman, admin, teknisi bahkan office boy dari 'orde lama' ikut hengkang, meninggalkannya.

So, Freddy bagaikan mendirikan sebuah perusahaan baru. Dia mencari personelnya sendiri, menyusun sistem kerjanya sendiri dan membentuk teamnya sendiri. Sementara 'musuh-musuh'nya yang gak tampak masih berkeliaran sekantor dengannya.
Kalian ngerti maksudku? apa yang kalian rasakan bila ada sebagian besar orang di kantormu yang membencimu. Belagak baek, tapi dalam hati memusuhimu. Mengawasimu. Dan selalu berharap melihat kamu kesandung sesuatu...

Satu-satunya salesman dari 'orde lama' yang membelot dan memihak kepadanya adalah Pingyuen. Kemudian ada Rudi, mantan salesman home appliance yang masuk tepat di hari yang sama denganku. 'Amunisi-amunisi' berikutnya yang ikut memperkuat team Freddy adalah Paulo, Chad, Dwain, Howard dan beberapa orang yang udah gak aku inget lagi namanya.

Satu yang aku kagumi dari sosok Freddy adalah gaya kepemimpinannya yang selama ini belum pernah aku temui pada pimpinan-pimpinanku yang sudah-sudah. Freddy selalu ngantor dalam setelan pakaian yang rapi banget, and... berdasi (sangat gak biasa untuk kalangan executive muda di Surabaya, terutama buat orang-orang dari dunia bisnis elektronik macam kami).

Dia gak asal memerintah kami dengan pressure, melainkan dia melontarkan sebuah tantangan. Dia gak pernah cuman bisa menghakimi aja, tetapi dia selalu yang lebih dulu maju di garis depan untuk ngasih contoh.

Kata-kata yang sangat menyentuh n' selalu kuingat adalah pesannya setiap kami akan ‘bertempur’ ke luar kota, “Lupakan dulu yang ada di rumah. Fokus pada apa yang akan kamu kerjaan, jangan jadikan target sebagai momok yang bisa mempengaruhi konsentrasimu. Cari hotel yang nyaman, makan yang enak, jangan terlalu mikirin beayanya. Jangan cepat-cepat pulang, jangan ada perasaan dibatasi waktu..."

Cara Freddy memperlakukanku, membuatku merasa termotivasi, terobsesi untuk selalu menyenangkan dia, dan membuatku membelanya mati-matian. Tau nggak, kekuatan dan dorongan dari dalam seperti yang aku sebut di atas tadi, terkadang bisa membuat seseorang melakukan pekerjaan yang melebihi kemampuannya...

Aku merasa sperti seorang striker yang kesetanan. Banyak 'manuver-manuver' yang tidak terduga, banyak 'goal-goal' yang sama sekali tidak kusengaja. Mendadak aku sperti seorang pahlawan; menjadikan line produk yang sebelumnya di level underdog, menjadi penopang omzet yang paling utama.

Belum genap tiga bulan masa kerjaku, Freddy telah memberikan sesuatu yang sangat berarti buatku; Mempromosikan aku sebagai seorang supervisor divisi, bersama Rudi dan Howard.

Dari Freddy juga, aku belajar untuk membuat keputusan yang masih aku inget hingga sekarang.

Sewaktu Freddy memecah striker-striker-nya menjadi tiga divisi, kami sebagai supervisor harus memilih anggota team kami masing-masing dari beberapa salesman yang ada. Rudi udah membentuk anggota gangnya sendiri, Howard juga udah siap bergerilya bersama divisi Home Appliance-nya.

Sementara orang yang tersisa buatku hanya Chad dan Dwain, dua salesman yang kurang beruntung; pemain debutan, kurang pengalaman dan nilai rapornya penuh warna merah.

Waktu itu, Freddy berkata, "Pilih orang-orang yang tepat buat divisi-mu sendiri, karena orang-orang itu yang akan membantumu untuk mencapai target yang saya bebankan kepadamu. Buang perasaan sungkan, kasihan maupun rasa kesetiakawanan. Karena saya juga tidak akan sungkan-sungkan untuk menuntut hasil kerjamu nanti."

Aku bebas memilih Chad dan Dwain. Atau merelakan mereka berdua dikick-out dan merekrut orang laen yang sesuai dengan kriteriaku sendiri.

Bukan keputusan yang mudah buatku, tetapi akhirnya aku pilih untuk menyelamatkan mereka, Chad dan Dwain...

Tidak perlu aku ceritakan, gimana sepak terjangku menggembleng dua orang itu...Sebab aku males banget menceritakannya... He he he...

Mungkin aku sedikit memiliki anugrah untuk mengasihi orang laen...
Mungkin aku ada talenta untuk mengembangkan sebuah potensi...
Tetapi, mungkin juga aku perlu belajar lagi untuk membuat mereka setia...

Beberapa periode setelah hari itu, Chad dan Dwain termasuk dalam deretan rivalku. Mungkin gak kayak duri yang bisa ngelukai kakiku, tapi cukup membikin goresan

Tapi, sumpah aku gak menyesalinya...
Ada perasaan bangga liat Dwain hingga hari ini, Chad entah ke mana aku gak pernah ketemu dia lagi...
Sekalipun mungkin mereka udah gak inget lagi, tapi paling nggak aku bisa bilang, aku dulu yang menyelamatkan dan menggemblengmu hingga bisa seperti hari ini

1 comments:

frendli said...

benar-benar dunia yang kearas ya....
salam kenal

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)