Tuesday, November 11, 2008

Melenyapkan PRASANGKA

Pagi 7 Desember 1941, ribuan pesawat tempur angkatan perang kekaisaran Jepang membumi-hanguskan Pearl Harbour. Korban jiwanya nyapai 2350, 68 warga sipil dan 1178 luka-luka. Kejadian itu begitu tiba-tiba dan gak disangka ama sekali.

442nd RegimentKira-kira, gimana perasaan Amerika waktu itu yah? Tentu aja kaget. Mereka gak ampe memperkirakan Jepang akan bener2 ngelakuin hal itu. Jepang terlalu kecil buat nantang Amerika.
Marah? Tentu aja...
Amerika berang banget nerima musibah tersebut. Pemerintah Amerika, warga Amerika, dan terutama keluarga para korban sangat benci dan dendam ama orang Jepang.

Terus gimana nasib warga keturunan Jepang yang mungkin dah satu ato dua generasi tinggal and nyari nafkah di Amerika? Mereka otomatis jadi korban kebencian pemerintah Amerika waktu itu. Beberapa pemimpin komunitas warga Jepang ditahan. Mereka dicurigai terlibat dalam memberi informasi rahasia kepada pihak lawan. Pemerintah ngelakuin segala hal buat membatasi gerak-gerik warga keturunan ini. Bahkan Presiden Franklin D.Roosevelt ngeluarin United States Executive Order 9066 yang nyebabin 120ribu warga etnis Jepang ditahan di internment camp. Cilaka...!!!

Issei, demikian sebutan untuk generasi pertama warga etnis Jepang yang merantau dan hidup di Amerika. Sedangkan Nisei adalah generasi kedua yang dilahirkan di Amerika. Dan Jawaban Issei dan Nisei atas perlakuan gak adil yang mereka terima dari Amerika adalah dengan mengajukan diri sebagai sukarelawan dalam perang menghadapi Jepang, negeri nenek moyang mereka.

Gak mudah untuk mengubah prasangka. Butuh pembuktian panjang untuk memperbaiki image mereka di mata warga Amerika. Dan 100th Infantry Battalion di Hawai'i yang pasukannya terdiri dari lebih 1400 Nisei menjadi pelopor pembuktian itu. Atas kesempatan yang diberikan oleh Letjen Delos C. Emmons (Gubernur Militer di Hawai'i yang ketika itu menolak mendeportasi pasukannya ke internment camp), bener2 mengubah pandangan Amerika terhadap warga etnis keturunan Jepang.

Keberhasilan dan kesetiaan para Issei dan Nisei membuat pemerintah Amerika merevisi keputusan mereka. Menyusul dibentuknya 442nd Regimental Combat Team yang anggotanya khusus terdiri dari para sukarelawan etnis Jepang.

Prestasi 442nd Regiment bener2 luar biasa. Mereka bertempur di garis paling depan. Diterjunkan ke Algeria, Afrika Utara bahkan hingga ke Italia. Jumlah korban yang gugur dah gak terhitung dah. Karena emang misi mereka lebih banyak nyebur di area yang paling berbahaya.

442nd Regiment bener2 jadi unit yang paling banyak menerima penghargaan dalam sejarah militer Amerika. Sampai2 mereka dapet julukan "The Purple Heart Battalion" lantaran banyaknya medali Purple Heart (penghargaan untuk tentara yang gugur atau terluka dalam pertempuran) yang dianugerahkan oleh presiden.

Jasa para Issei dan Nisei dalam perang dunia kedua telah mengubah prasangka dan perlakuan Amerika terhadap warga keturunan Jepang maupun Asia lainnya. Bahkan hingga hari ini...

Taun 1963, Daniel K. Inouye menjadi warga keturunan Jepang pertama dalam anggota senate Amerika. Taun 1971, Norman Y. Mineta terpilih sebagai Major di San Jose, California, sekaligus menjadi etnis Asia-Amerika pertama yang menjabat sebagai seorang Major. Taun 1999, Jendral Eric Shinseki menjadi orang Asia-Amerika pertama yang menjadi Kepala Staff Militer Amerika. Dan Taun 2000 lalu, Norman Y. Mineta menjadi orang Asia-Amerika pertama yang masuk dalam anggota kabinet Amerika sebagai menteri komersial dan transportasi.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran, bahwa prasangka bisa dilenyapkan jika ada pembuktian, pembuktian ada jika ada kesempatan untuk membuktikan...

Bagi warga keturunan, apapun etnisnya... Saat ini kita adalah warganegara di negara tempat kita lahir dan dibesarkan. Sudah siapkah kita mempersembahkan yang terbaik seperti yang telah diberikan oleh para Issei dan Nisei?

Dan bagi warga pribumi, siapkan kita menerima dan menghargai jasa dan perjuangan mereka yang telah berjasa untuk negara, sekalipun mereka adalah warga keturunan?

33 comments:

Pangki Fernandes said...

Buat saya, apapun etnisnya tidak masalah. Karena toh buat apa kita memandang seseorang dari warna kulitnya ( juga status, pangkat, ato apalah namanya yg terkadang membuat "jarak") Sudah seharusnya kita berubah. Menuju perubahan yg lebih baik. Dan menjalani perubahan itu bersama sama. Karena kita di ciptakan secara 'sempurna'.

love-ely said...

Sekarang bukan jamannya mempermasalahkan SARA. Itu sudah "kadaluwarsa" (out-of-date). Amerika sudah membuktikannya.

NB: Komentar Mas Anthony mendapat tanggapan dari Petrea (orang Amerika)

belly wijaya said...

satu lagi pelajaran buat kita yg masih 'newbie' dlm masalah demokrasi. Amerika pantas jadi guru.

Tendangan Bebas said...

Siapa bilang orang amrik gak SARA, banyak bro. Tapi mereka punya KONSTITUSI dan setia dengan KONTITUSI. Siapapun sama dihadapan KONSTITUSI. Itulah yang belum di miliki bangsa Indonesia.

Ton, kalo bisa review film RECOUNT, mantap untuk pembelajaran demokrasi

Yopan Prihadi said...

Luar biasa sekali laskar Issei dan Nisei ini dan selayaknya kita meniru perjuangannya untuk merubah image negatif menjadi image positif.
Sepertinya sudah bukan jamannya lagi kita membedakan etnis atau ras dimana kita berada.
Kenapa kita tidak memilih persamaan daripada perbedaan?

JALOE said...

yu obama adalah bukti, kwik kwan gie adalah bukti.. tampa memandang sara, pada intinya hati manusia terbuka... good postingan boss

albri said...

Yang penting itu sekarang kita harus memandang sebagai manusia, bukan ras. Tapi sayang sekali masih banyak yang melakukan ini di Indonesia

thevemo said...

bagi saya si segala etnis gak masalah..yang penting dia cinta NKRI...

Anthony Harman said...

To Pangki Fernandes;
Emang bener, Pang. Emang kita diciptakan sama2 'sempurna'. Ngapain membeda2kan yah
To love-ely;
Ya sudah kadaluwarsa. Tapi kebanyakakan orang Indonesia masih mengkonsumsinya
To belly wijaya;
Amerika banyak dituding sebagai biang masalah. Tetapi, emang kayaknya kita perlu belajar dari cara mereka berpikir
To Tendangan Bebas;
Recount? Saya pasti akan cari, Fir
To Yopan Pribadi;
Pilih untuk mencari persamaan, bukan perbedaan. Pas banget tuh, pak Yopan
To JALOE;
Thanks kang JALOE. Bikin tambah semangat neh
To albri;
Bener Bri. Di Indonesia masih sering membeda2kan
To thevemo;
Semua yg tinggal dan hidup dari negeri ini pasti cinta NKRI, bro

Project said...

hasil prasangka 90% salah, krn prasangka dilandasi oleh ketidaktahuan apa-apa

Pangki Fernandes said...

"To love-ely;
Ya sudah kadaluwarsa. Tapi kebanyakakan orang Indonesia masih mengkonsumsinya"


Pantesan ae. Ternyata sudah banyak yang OverDosis. la wong produk kadaluwarsa di konsumsi. Sepertinya harus dimulai dari 'kita kita' ( 'kita'? ya iyalah.. kalo 'aku' kapan cepat berubahnya. kan 'aku' sendiri.) Go...Go...Go!!!

Anonymous said...

Kisah yang menarik...
Sudah saatnya kita membangun negeri ini dengan cara dan gaya masing-masing demi kejayaan bangsa tercinta ini dan kesampingkan siapa, apa, darimana kita...

harianku said...

hal diatas mampu menjadi cermin bagi bangsa kita tentunya Indonesia

david said...

syukur sekarang gak kayak gitu y boss...kalo masih hancur ne dunia

Anthony Harman said...

To Project;
Emang ketidaktahuanbisa memicu prasangka, bro
To Pangki Fernandes;
Kalo mau berubah, musti mulai dari kita dulu. Itu bener, Pangki
To ksetiawan;
Setuju, Wan. Emang dah saatnya sekarang
To harianku;
Bener pren. Kisah di atas bisa jadi pelajaran buat kita
To david;
Hehehe, sekarang kan' gak jaman perang, Vid. Tapi saling benci antar ras masih banyak terjadi

ipanks said...

saya duduk, mendengarkan, melihat dan mengamati situasi nya.sambil berpikir untuk menentukan langkah2 yang harus diambil

hrxone said...

setiap kesini,postingannya mantap2...salut mas,btw sangat menginspirasi juga euy :D

OOM said...

benar-benar luas pengetahuan mas tony atau om yang kupeng ya hehehe

Yopan Prihadi said...

Met malam mas Anthony..
Maaf komennya diluar artikel yah..
Cuman mau ngasih kabar saja, kalau domain saya udah dipindah pake yang baru dan sekarang domain sya yang ini :

http://blog.yopanprihadi.com

Makasih sebelumnya dan maaf sudah merepotkan nih..

ndop said...

waduuh, saya hampir2 ndak mudeng. ndak menguasai sejarah soalnya.. tapi yang jelas demokrasi memang ada baiknya.. ndak selamanya demokrasi itu tidak baik..

*cmiiw*

Anthony Harman said...

To ipanks;
Apa langkahmu selanjutnya, panks?
To hrxone;
Thanks, bro. Jadi gede kepala neh
To OOM;
Mana mungkin om Agus kupeng...
To Yopan Pribadi;
Siip pak Yopan. Link-nya dah saya ganti
To ndop;
Makanya belajar sejarah, ndop:)

BloGendeng said...

Warna kulit, ras, suku bukan kita yang memilih, tapi anugerah dari TUHAN. Kita hanya bisa menerima. Tapi nilai dari seseorang adalah dari pengembangan kepribadian masing-masing. Jadi mari kita menilai, menghormati serta menghargai seseorang dari kepribadian /personality masing-masing individu, bukan dari ras ataupun golongan sosial.

kai said...

hmm.. jangan-jangan Issei malah dianggap pengkhianat di Jepang? Wuih, kalo dipilemin bakal kontroversial tuh..

thimbu said...

kalo masalah rasialis di indonesia, menurut gw merupakan salah satu peninggalan hindia belanda pada waktu itu dimana warga keturunan menjadi kelas kedua sedangkan pribumi menjadi kelas ketiga. dan bodohnya lagi masalah ras itu ternyata masih banyak digunakan oleh elit politik kita....
postingan yang mencerahkan, karena menurut gw masalah ras di indonesia masih menjadi bom waktu di negeri ini.

Anthony Harman said...

To BloGendeng;
Bijaksana sekali pendapat anda, bung:)
To kai;
Wah, saya nggak tau, bro. Nggak ada filmnya sih. Hehehe...
To thimbu;
Moga2 aja, "bom"nya kagak jadi meledak yah...

Anthony Harman said...

To BloGendeng;
Pendapat anda bijaksana sekali bung :)
To kai;
Wah, saya gak tau neh. Kagak ada filmnya sih. Hehehe...
To thimbu;
Moga2 aja "bom"nya gak ampe meledak :)

sapimoto said...

Siapapun dan darimana asalnya, jika memang mau bersama dalam membangun bangsa serta memberikan manfaat bagi banyak orang, haruslah diterima dan didukung...
Mengapa harus berprasangka pada warga keturunan, jika ternyata mereka lebih qualified dan mampu untuk memberikan banyak manfaat bagi kehidupan disekitarnya???

herro said...

hebat kang. terus terang saya ga pernah berpikir tentang makna dari film Pearl Harbour. Sedangkan akang bisa memberi makna yg indah dari film ini. memang benar, apapun etnisnya, sudah seharusnya kita saling menghargai karena sama2 hidup di Negara yg sama2 kita cintai.

Apipuzi said...

¿ısɐʞıunɯoʞ ssıɯ ɐuǝɹɐʞ ɥnʇɐɾ ɯoʇɐ ɯoq nɐlɐʞ ɐʎı ɹǝuǝq ɐdɐ

sry harus jempalitan dulu untuk mbaca ini!

arielz said...

nice post kang
prasangka karena beda ras sudah tidak relevan lagi sekarang ini, perbedaan ras merupakan anugerah, kita tidak punya hak untuk menilai suatu ras lebih tinggi dari ras yang lain, yg bisa kita nilai adalah sepak terjang dan perbuatan masing2

Anthony Harman said...

To sapimoto;
Itu baru setuju, pak
To herro;
Emang kan' ceritanya gak ada dalam film Pearl Harbor, bro :)
To Apipuzi;
Bener2 kebalik2, bro :)
To arielz;
Bener, kang. Perbedaan itu justru anugerah.

albri said...

belum update to...

Ardy Pratama said...

kitaa semuaaa samaaaaaaa.... :D Gak ada yg beda bang, pribumi atw gak pribumi it gak ada dalam kamus saya. Smua mnusia sama dimata tuhan, knapa kita yg mnusia hrus sling mmbeda2kan :)

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)