Wednesday, January 21, 2009

MAWAR untuk Orang Yang Dikasihi

Ana membuka pintu depan rumahnya mencari Tino dan Tina, kedua anaknya yang sedang bermain-main di halaman depan, untuk mengajak mereka sarapan. Di luar ia disambut sejuknya angin pagi yang membawa serta aroma bunga mawar dari kebun rumah sebelah.

Andai saja Ibu Mulya sama terbukanya seperti kuncup-kuncup mawar di kebunnya, demikian Ana berbisik dalam hati seraya melayangkan pandangan ke arah rumah tetangganya.

Sudah setengah tahun Ana tinggal di pemukiman itu, sejak mengikuti suaminya pindah karena mendapat tugas baru. Sebagaimana layaknya warga baru, ingin Ana mengenal dan bertegur sapa dengan penghuni rumah sebelah yang lanjut usia dan sudah menjanda itu, namun hasrat tersebut belum kesampaian.

Hanya satu kali ia bertemu ketika ikut bersama warga yang lain mengunjungi Ibu Mulya yang sedang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Setelah sembuh, boleh dibilang tetangganya itu jarang keluar rumah, dan jarang pula ada orang yang datang bertandang. Betapa sepi hidupnya yang sendirian itu.

Pernah suatu sore, dengan membawa bungkusan kue yang baru dibuatnya, Ana mengunjungi Ibu Mulya. Beberapa saat setelah diketuk, pintu terbuka sedikit dan sambil tetap memegang gagang pintu, Ibu Mulya langsung bertanya: “Ada apa?” “Oh, selamat sore Bu”, jawab Ana dengan tersenyum ramah. “Enggak, saya membawa sedikit kue buatan sendiri untuk Ibu”. Sedikit ragu ibu tua itu menerima bungkusan plastik yang disodorkan Ana, dan setelah mengucapkan terima kasih, langsung menutup pintu kembali tanpa basa-basi lagi. Mendapat perlakuan seperti itu terperanjatlah Ana, ia merasa seperti ditampar wajahnya. Dalam perjalanan pulang ia berpikir: Buat apa aku menyibukkan diri dengan orang yang tidak bersahabat?

Diceritakanlah pengalaman pahitnya itu kepada suaminya. “Tidak kusangka sama sekali sikapnya yang begitu”. Dengan nada menghibur suaminya berkata: “Jangan terlalu dirisaukan. Kan kita tidak pernah tahu pikiran dan perasaan orang lain. Baiknya kamu doakan saja dia”. Ah, aku sudah cukup berbuat untuknya, sanggah Ana di dalam hatinya.

Tetapi keesokan harinya ia berpikir bahwa orang yang memelihara kebun mawar seperti itu setidak-tidaknya tentu memperhatikan kehidupan. Ya Tuhan, dia hanya seorang diri. Bantulah aku agar bisa mengisi kesepiannya. Saat itu juga hilanglah perasaan tersinggung dalam hati Ana. Seorang diri di kamarnya ia kemudian menulis: Terima kasih Tuhan, atas harumnya bunga mawar yang ditanam Ibu Mulya. Sepotong doa di atas kertas kecil itu disimpannya dalam sebuah kotak.

Selang seminggu, kembali Ana membawa kue-kue ke rumah Ibu Mulya. Dan persis seperti pada kunjungan pertama, pintu rumah langsung tertutup setelah bingkisan diterima. Tetapi sebaliknya dari marah, Ana menulis: Tuhan, kali ini pintu rumah terbuka lebih lebar sedikit. Kertas berisi tulisan itu pun disimpannya dalam kotak. Dan demikianlah sepanjang tahun itu Ana sering datang berkunjung dan membawa penganan, namun tetap saja Ibu Mulya menutup kesempatan untuk Ana bisa berbincang-bincang. Biarpun begitu setiap kali Ana selalu setia menuliskan hal-hal yang disyukurinya. Terima kasih Tuhan, karena aku masih boleh memberi sesuatu kepadanya. Dan semakin banyak pula isi kotak doanya itu.

Pada suatu sore Ana datang membawa semangkuk wedhang ronde. Ketika dibukakan pintu, ia berkata: “Musim hujan begini udara seringkali dingin. Saya pikir wedhang ronde ini baik untuk menghangatkan tubuh”. Sembari tangannya memegang mangkuk hangat itu, Ibu Mulya menjawab: “Benar. Anda sungguh baik, terima kasih”. Tiba di rumah kembali, Ana langsung menulis: Terima kasih Tuhan atas kata-kata manis Ibu Mulya.

Beberapa hari kemudian, selagi ia sibuk di dapur, Ana mendengar pintu rumahnya diketuk perlahan. Kaget juga Ana ketika melihat Ibu Mulya berdiri di hadapannya. “Oh, Ibu. Mari silahkan masuk”, katanya. “Tidak, lain kali saja. Saya cuma mau memberikan ini untukmu”, dengan tersenyum Ibu Mulya menjawab sambil menyodorkan kedua tangannya yang membawa bunga-bunga mawar yang baru dipetiknya. “Wah, cantik sekali bunga-bunga ini”, seru Ana. “Terima kasih banyak”. Pada kertas doanya Ana menulis: Tuhan, terima kasih untuk senyum Ibu Mulya hari ini, dan terima kasih pula untuk pemberiannya yang indah, dan tak lupa memasukkan lembar kertas doa tersebut ke dalam kotaknya.

Sejak saat itu Ibu Mulya sering datang berkunjung membawa hadiah-hadiah kecil berupa mainan untuk anak-anaknya, bahkan kini ada kebun mawar kecil di halaman rumah Ana. Isi kotak doanya pun semakin penuh.

Malam Natal Ibu Mulya menjadi tamu keluarga Ana. Seusai santap malam bersama, ia mendapat hadiah dari Ana berupa sebuah kotak. Dibukanya kotak itu dan yang pertama-tama terbaca olehnya adalah tulisan: Terima kasih Tuhan, atas perkenanMu menjadikan Ibu Mulya tetangga kami. Beberapa saat ia duduk terdiam menatap potongan-potongan kecil kertas doa yang memenuhi kotak di pangkuannya, setelah itu ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Ana, ini pemberian yang paling berharga dan paling berarti buat saya”.

Dua tahun kemudian, Ibu Mulya mendapat serangan jantung kembali. Beberapa kali Ana datang menjenguknya di rumah sakit dan tak lupa selalu membawa bunga-bunga mawar hasil kebunnya sendiri.

Suatu pagi, seorang perawat mendapati Ibu Mulya sudah meninggal dalam tidurnya. Mendengar berita itu Ana segera bergegas menengok. Di sana tampak olehnya tergeletak di sisi bantal sebuah kotak dalam keadaan terbuka. Isinya hanya secarik kertas yang bertuliskan: Terima kasih, Tuhan, atas anugerahMu berupa seorang sahabat yang begitu baik. Engkau telah menjadikan aku orang yang dikasihi.

Dari kisah sederhana di atas, kita belajar untuk tetap berbuat kebaikan. Sekalipun kebaikan yang udah kita berikan, mungkin aja gak dapet balasan sesuai dengan yang kita harapkan.

Tetapi percayalah, bahwa kebaikan yang telah kita perbuat untuk seseorang pasti memiliki arti, meski kita sendiri gak mengetahuinya.


Publikasi ulang dari artikel "Seberkas Mawar Buat Tetangga" dari blognya Fanda.

24 comments:

Anonymous said...

Happy Wednesday! Bloghoppin' here... Hey, I have an interesting tutorial for you that I have written myself. It is about adding Adsense on your Single Post in XML template. I hope you'll like it! God Bless you!

gus said...

mawar, simbul romabtisme. karena untuk memetiknya perlu kehati2an agar terhindar dr tusukan duri tajamnya...karena mawar merah dianggap paling mewakili perasaan pemberinya....(salah gak yah Suhu)

david said...

menarik banget ceritanya boss....

tino said...

Sebuah pemberian yang besar nilainya karena mengandung banyak "kasih" di dalamnya.

Nias Zalukhu said...

Merinding bacanya... :(
Kebayang juga ya kehidupan ibu Mulya...
tapi salut dah buat Ana karena jarang ada org spt itu....
Seandainya ada org ngelakuin ituh untuk aku hihihi

Sang Penyamun 210109 said...

susah tuh nyari wanita seperti Ana jaman sekarang ini..
kalo ada pasti pada rebutan mo jadiin istri (klo prawan sih)
heheheh...
nice post bro...

budi tarihoran said...

co cwiiiiiiiiitttttttttt

subagya said...

kisah yang mengandung makna menghargai dan kebaikan sesama manusia

Fanda said...

Mas Anthoni, thanks ya sdh re-publish artikel-ku. Memang kebaikan perlu disebarluaskan biar makin banyak orang terinspirasi. Coba kalo semua orang di kampung kita aja punya hati kayak Ana, pasti deh kita bisa hidup lebih bahagia. Iya nggak?

Anthony Harman said...

To gus;
Gus ini kayaknya koq romantis banget ya
To david;
Makasih, Vid. Ini juga hanya publikasi ulang dari blognya Fanda koq
To Tino;
Tepat mas Tino. Pemberian akan semakin besar nilainya, kalo diserta kasih
To Nias Zalukhu;
Saya sebenernya mau melakukan hal itu buat anda, mas Augus. Tapi, apa nggak bikin anda ketakutan. Dikira hombreng ntar. wkwkwkw...
To Sang Penyamun;
Wah, kalo ada ntar diembat ama anda, bro
To Fanda;
Saya yg musti terima kasih ama kamu, Fanda. Artikelmu ini, sangat menginspirasi saya
To subagya;
Makasih apresiasinya, mas Mochal

boyin said...

betul mas..berbuat baik itu udah standard default..gak usah dipikirin lagi mau dibales apa nggak..

junjungpurba said...

good point mas, kebaikan itu harus iklas. Kita pasti dapat yang lebih dari yang diatas.

harianku said...

wah romantis juga yah si mas :P

Anonymous said...

Berbuatlah kebaikan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan tak perlulah kita mengingat segala kebaikan yang telah kita berikan...dan biarlah alam semesta atas perintah Sang Pencipta yang meresponnya...
Sesungguhnya milik kita adalah yang pernah kita berikan kepada siapa saja, bukan yang ada pada tangan kita...

Harry Seenthings said...

wah arti tulisan ini sungguh dalem sekali kang....

Anthony Harman said...

To boyin;
Saya setuju, bro. Emang harus begitu sih
To junjungpurba;
Ikhlas dan musti didasari kasih. Gitu...
To harianku;
Romantis? Hehehe... jadi malu.
To ksetiawan;
Pendapatmu punya makna yg dalem banget, bro

thevemo™ said...

pengen banget melihat bunga mawar hitam dan akan ku potret bunga itu...

Lagi ngetest keyword bunga mawar ni bro?

ABDEE NEGARA said...

berbuat baik tidak harus selalu menharapkan imbalan apa2.. biarlah Tuhan nti yg akan membalasnya....

www.katobengke.com said...

kalau kita melakukan sesuatu jangan pernah berharap sesuatu sebab jika kita terlalu berharap dan yang kita harapkan itu tak sesuai dengan apa yang kita harapkan maka rasa kecewa yang mendalam yang kita rasakan..........

JALOE said...

Iye setuju banguet.. berbuat baiklah dan jgn mengharapkan imbalan...salut atas ceritanya

Yopan Prihadi said...

Sebuah kisah yang cukup menarik dan menggugah siapapun yang membacanya...
Rasanya sebuah keikhlasan ketika kita memberi sesuatu tanpa mengharapkan imbalan adalah seperti halnya menanam benih kebaikan...dan kebaikan...

ipanks said...

kisah yang bagus untuk kita renungkan bersama dan bagus untuk bahan renungan kita masing-masing

joe said...

Bunga bisa berjuta makna, seperti kata orang: say it with flower

joe said...

O iya, template-nya keren abis... salute

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)