Wednesday, February 03, 2010

Memilih Pemimpin yang Tepat

Ketika membaca artikel di blog Fanda yang mereview kisah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi dalam buku The Swordless Samurai, saya sempat termenung sejenak.

Mencari dan memilih pemimpin yang tepat, begitulah langkah pertama yang dilakukan Hideyoshi untuk menuju sukses. Bagi Toyomi Hideyoshi, pemimpin yang patut diikuti adalah pimpinan yang pandai, hebat dan visioner.

Saya jadi bertanya2, sudahkah saya mengabdi kepada pemimpin yang tepat?

Bicara mengenai pemimpin yang tepat, ngomong2 saya pernah punya boss yang sangat menginspirasi setiap langkah saya hingga kini. Beliau bernama Bp.Junaide Sungkono. Saya mengabdi kepada beliau saat masih kerja di TCL sekitar 4 hingga 8 tahun lalu, waktu itu Bp.Junaide adalah direktur utama alias big boss saya.

Di mata saya, Bp.Junaide ini adalah boss yang bijak, cerdik dan visioner. Tidak butuh banyak kata dari saya untuk memuji gaya kepemimpinan beliau...

Orang baik menggambar sebuah lingkaran mengelilingi seluruh anggota keluarganya, 'istri dan anak2nya'. Dan care terhadap siapa saja yang berada di dalam lingkaran tersebut...

Beberapa orang menggambar lingkaran yang lebih besar lagi dengan memasukkan sanak saudara dan orang2 terdekatnya...

Tetapi, ada orang2 tertentu yang ditakdirkan untuk menggambar lingkaran yang sangat besar untuk membawa semakin banyak orang lain ke dalam perlindungannya...

Buat saya, Bp.Junaide ini adalah salah satu dari tipe yang ketiga. Beliau adalah pemimpin yang care kepada setiap bawahannya. Hampir semua orang yang mengabdi kepada beliau adalah orang2 lama yang cukup setia bekerja untuk beliau, bahkan sejak beliau masih merintis bisnis di perusahaan2 yang sebelumnya. Menurut saya, hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Bp.Junaide ini adalah pemimpin yang layak untuk diikuti.

Tidak perlu saya ceritakan, mengapa saya memutuskan untuk meninggalkan beliau. Toh bagi saya, takdirlah yang telah memisahkan kami. Yang pengin saya ceritakan di sini adalah pengalaman saya ketika mendapat kesempatan mendampingi beliau saat melakukan wawancara dengan calon salesman baru untuk kantor cabang kami di Surabaya.

Ketika itu ada dua orang calon salesman yang dipanggil menghadap beliau di lobby Sheraton Hotel, sebut saja Thompson dan Harold...

Thompson adalah salesman kawakan yang sebelumnya bekerja untuk perusahaan kompetitor kami dan telah berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam bisnis elektronik. Sementara Harold hanyalah salesman anyar yang baru 1-2 tahun bekerja dengan penampilannya yang lugu dan pas2an.

Pak Junaide mulai dengan Thompson. "Sudah lama di perusahaan A?"
Thompson dengan mantap menjawab,"Sudah 15 tahun, pak"
"Kantor pusatnya yang di Jakarta ada di daerah mana ya?"
"Mmm... Saya tidak ingat, pak. Tetapi saya ada catat alamatnya"
"Wilayah mana saja yang telah kamu kuasai?" lanjut beliau.
"Saya cukup menguasai semua area di Jatim, pak" Kembali Thompson menjawab dengan percaya diri.

Bp.Junaide menutup interview-nya sampai di situ, dan mempersilakan Thompson untuk pergi. Selanjutnya, beliau beralih kepada Harold.

"Umur berapa kamu?" Bp.Junaide memulai pertanyaannya.
"20 tahun, pak" Harold menjawab datar. Saya baru sadar kalo dia agak cedal.
"Punya kendaraan?" lanjut Bp.Junaide.
"Maaf. Saya tidak punya, pak" Harold menjawab dengan ragu2.
"Berapa orang saudaramu?" Begitulah pertanyaan selanjutnya.
"8 orang, pak. Saya anak ke tujuh"
"Orang tua-mu kerja apa?"
"Tidak kerja, pak. Mama di rumah, sedangkan papa 'kena' stroke"
"Apa?" Bp.Junaide agak kurang jelas dengan suara Harold yang cedal.
"Papa kena stroke" Harold mengulangi jawabannya.
"Lalu siapa yang membeayai keluargamu?"
"Kakak saya yang pertama dan kakak yang nomor dua, pak"

"Oke, kamu bisa mulai bekerja di perusahaan kami," Begitu Bp.Junaide menutup pembicaraan mereka berdua.

Hanya begitu saja? Benar. Dan kami semua tidak mengerti apa yang menjadi dasar pertimbangan beliau untuk lebih memilih Harold. Saya sendiri semula mengira bahwa Thompson lah yang bakalan lolos dalam seleksi terakhir ini.

Apakah karena Harold memiliki motivasi yang lebih besar untuk sukses? Dia muda, berasal dari keluarga miskin, dan harus menghasilan uang untuk membantu keluarganya. Yang jelas, waktulah yang membuktikan apakah pilihan Bp.Junaide ini tepat atau tidak.

Hingga saat ini, Harold-lah yang masih tetap setia mengabdi kepada Bp.Junaide, bahkan ketika saya dengar kabar bahwa beliau jatuh bangun ditinggalkan partner2 bisnisnya dan harus terseok2 merintis brand barunya seorang diri mulai dari nol.

9 comments:

Blog Me Is Back said...

kadang memilih itu ada saja yang salah ya kang, semoga nanti kalo ada pemilihan lagi kita gag salah milih lagi

ndop said...

jaman sekarang emang susah memilih orang yang sempurna.. kayaknya nggak mungkin... jadi, ya kita harus saling membantu menutupi kekurangan...

nggih nopo nggih mas?

subagya said...

dialog yang sangat menyentuh, ternyata berbekal pengalaman tidak cukup ya om, harus dengan motivasi dan adanya keterdesakan

Bung Eko said...

Hhmm, kalau saya jadi Pak Junaide, Thompson pasti sudah saya bilang, "15 tahun kerja kok gak tahu alamat kantornya yg di Jakarta sih?". Hehehe...

Terus, jawabannya yang "Saya cukup menguasai semua area, pak" bukan jawaban yg bagus, karena ia hanya ingin menimbulkan kesan kalau ia menguasai banyak tempat, tapi tidak jelas tempat mana saja yg ia maksud.

Hehehe, sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi. :D

Fanda said...

Wah kalo aku yg ngelamar di tempat pak Junaide pasti ga keterima ya, mas? Soalnya di tempat kerja lama, aku jg mengabdi hingga 15 thn. Beruntunglah bosku yg sekarang justru menerima aku krn sdh pengalaman...

Tapi mas, karakter seseorang itu bisa berubah loh. Aku punya seorang mantan bos, yg saat aku bergabung begitu hebat leadershipnya, tp setelah ia memiliki banyak pabrik, karakternya jadi berubah. Ini juga yg dialami Hideyoshi, kesuksesan kadang bisa mengubah watak orang.

secangkir teh dan sekerat roti said...

cukup menggugah untuk pemberi semangat!

attayaya said...

bener......
pemimpin yang dipilih haruslah tepat
jika tidak, kacaulah semua
tetapi perlu juga berhati2 atas motivasi setiap org utk bekerja.
bukan hanya untuk mengejar materi, tetapi juga kepuasan bathin dalam bekerja
thanks for sharing

chicky said...

yuuups...pemimpin yg tepat berawal dari pilihan yg tepat... :)

kai said...

orang yang nyaris udah mendapat semua impiannya, motivasinya biasanya dah berkurang.. en cenderung maen aman..

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)