Monday, March 22, 2010

Bonek

Kemarin sore Persebaya mengalahkan Persela dengan skor 2-0. Saya dengar berita tersebut lewat radio, sewaktu perjalanan pulang dari Plaza Surabaya.

Beberapa orang tampak bersyukur atas kemenangan Persebaya sore itu, bukan karena mereka ngefans sama Persebaya. Tetapi karena semua sudah pada tahu, seandainya Persebaya sampai kalah, segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi.

Sebenarnya cerita mengenai kebrutalan supporter Persebaya ini sudah bukan hal baru lagi, terutama buat kami warga Surabaya. Dulu saya sendiripun pernah mengalami hal buruk sehubungan dengan ulah para bonek ini. Mobil pickup milik kantor yang kebetulan saya kendarai mendadak ditunggangi oleh belasan supporter yang memaksa saya dengan kasar untuk diantar ke tujuan tertentu.

Nah, yang jadi pertanyaan saya, apa benar sih mereka semuanya adalah sungguh2 fans fanatik Persebaya? Yang ada dalam benak saya koq tidak demikian. Banyak sekali faktor yang menyebabkan prilaku anarkis seperti yang banyak dilakukan para supporter ini. Di antaranya adalah lapangan kerja dan kebersamaan.

Saya yakin, para bonek ini adalah pengangguran. Ya, lagipula siapa yang mau percaya mereka2 ini memiliki pekerjaan tetap. Lah wong tidak peduli hari maupun jam kerja atau bukan, mereka tetap saja datang bergerombol di jalan2 untuk memenuhi Stadion Tambaksari, bahkan sampai ke daerah lain segala.

Mereka pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga event2 pertandingan sepak bola yang melibatkan Persebaya menjadi ajang bagi mereka untuk meluapkan ekspresi diri.

Dan yang menjadi faktor pendukung niat mereka untuk bertindak brutal di jalan adalah karena mereka itu tidak sendirian. Percaya atau tidak, jika seseorang sedang berada dalam gerombolan yang masing2 memiliki nasib dan tujuan yang sama, maka nyali mereka akan bertambah. Mereka cenderung berani melakukan segala hal yang sebelumnya mustahil untuk mereka lakukan saat sendiri. Ingat pepatah "Bersatu kita Teguh". Kira2 seperti itu lah...

Kalau sudah demikian, tinggal siapa yang mengendalikan arah mereka. Lapar, haus, kecewa, marah, capek... sudah pasti akan membuat rombongan supporter ini menjadi brutal.

Entah bagaimana mengatasi segala persoalan bonek ini. Yang pasti tidak bisa hanya dengan memperketat pengamanan...

12 comments:

Nirmana said...

kesimpulan akhirnya pas banget tuh. pengamanan bukanlah solusi/jawaban yang bijak atas bonek

Fanda said...

Setuju mas! Menurutku, sebenarnya tinggal mengarahkan mereka tuk menjadi fans/pendukung Persebaya seutuhnya dan pecinta olahraga sepakbola. Masalahnya, siapa yg care untuk melakukannya?

fanda dan fanny said...

haloo...makasih dah mampir ke blog kami

The fachia said...

tetep pendidikan moral perlu ditingkatkan.. :(

Bisnis Online said...

bonek emang brutal

Bung Eko said...

Memperketat keamanan jelas bukan solusi bagi perilaku anarkis suporter seperti bonek. Justru semakin ketatnya pengamanan akan membangkitkan emosi dan keberanian mereka, sehingga malah memperparah keadaan.

Saya setuju dengan analisa Koh Anthony kalau mereka ini hanya ingin mengaktualisasikan diri, dan sepakbola hanyalah satu-satunya cara yang dapat mereka tempuh.

hanif said...

benar. seperti pepatah mengatakan, batu dilawan batu, sama2 hancur, jadi dengan air lah batu hancur, dengan memeberikan perlawanan bukanlah solusi. tapi duduk bersama dan membicarakan persoalan utama, meminggirkan egoisme, saya rasa bisa kok.

Okta said...

boleh sih mendukung tim kesayangan..
tapi tidak seharusnya berlebihan seperti itu..:D

emmy said...

this is true.. mreka bukan sungguh2 fans berat persebaya.. toh walau sudah diancam2 tetap aja mreka bikin rusuh.. hadang kendaraan2 berame2--terutama pengemudi wanita, gedor2 mobil orang minta duit..

mreka seneng kalo orang2 takut samabonek. smakin menjadi2 aja ntar.. sebel..

Bung Eko said...

Lho, kok belum di-update, Koh?

didy margi said...

Indonesia penuh dengan fanatisme BONEK hanya bagian kecil aja banyak yang lain dan bukan cuma suporter sepak bola. Fanatisme boleh aja itu bagus tapi dengan cara yg santun dan tidak merusak. Kalo masalah pekerjaan wah.. ini perlu campur tangan pengusaha2 dan penguasa ....

subebeck said...

iya mas, kebanyakan memang pengangguran dan anak jalanan yang rambutnya merah-merah itu... mungkin solusinya dibuatkan lapangan kerja berupa kerajinan tangan yang tidak memiliki syarat pendidikan tinggi. Siapa yang harus bertanggung jawab? ya pemerintah kota lah, kalau pemerintah diam saja, akan terus seperti itu dan mereka akan semakin manja. maaf agak ngawur komentar saya :)

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)