Thursday, October 07, 2010

Suara Hati WARGANEGARA KETURUNAN TIONGHOA

Kami datang belakangan, awalnya banyak dari kami yang datang dalam kemiskinan. Sudah banyak yang tiba lebih dulu sejak generasi nenek moyang kami.

Kami duduk dibawah terik matahari menunggu dagangan kami, di saat ada orang lain datang meminta bagian untuk uang "keamanan".

Kami mengayuh sepeda berjualan bakpao, di saat orang lain sedang menikmati makanan kesukaannya.

Kami menghitung berapa kuat kami bisa menanggung beban dan berapa jumlah yang bisa kami tabung, di saat orang lain menghitung berapa banyak uang yg akan mereka belanjakan.

Kami berusaha dan mencari peluang yang bisa menghasilkan uang, ketika orang lain sedang mencari barang apa yang bisa dibeli dengan uang mereka.

Kami rajin berhubungan dengan banyak orang agar kami lancar mencari makan, ketika yang lain sedang enak menikmati hidangan makan malam dimeja nya.

Kami berani menanggung resiko atas pinjaman2 dengan bunga tinggi, di saat banyak orang merasa berpuas diri akan penghasilan rutin nya.

Kami rela makan nasi sekali sehari demi masa depan, di saat semua orang menuntut makan 3 kali sehari.

Kami mengirit dan rela menggunakan pakaian ala kadarnya, di saat banyak orang menggunakan pakaian mewah buatan Perancang & Butik terkenal

Setelah berpuluh tahun sang waktu berlalu...

Kami menikmati apa yang telah kami perjuangkan...
Di saat itu ada yang mengumpat dan berkata, "Sialan, elo nguasain negara gueee!!"

Kami menikmati liburan untuk melihat indahnya alam ciptaan Tuhan, di saat orang-orang ribut akan kenaikan harga sembako.

Kami bersyukur atas hasil kerja keras kami, di saat banyak orang sedang sibuk mengutuki negeri ini dan berdemo anarkis merusak negeri ini.

Kami berjalan menyisir pantai, menikmati tenggelamnya matahari, ketika orang lain melihat matahari tenggelam dari jendela masih ditempat kerjanya.

Kami sangat bersyukur karena anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikan, ketika orang lain banyak yang pusing memikirkan bagaimana menyekolahkan anaknya.

Kami menikmati dan bercerita tentang bagaimana indahnya hidup ini, ketika orang bercerita tentang susah dan pahitnya hidup ini.

Kami sudah berpikir besok mau makan apa, ketika banyak orang berpikir apa besok bisa makan.

Saat kami menikmati puncak kesuksesan, ada sebagian orang menyalahkan kami atas kemiskinan yang mereka alami.

Saat kami masuk ke pintu ruang pabrik kami, ada yang datang minta bagian atas apa yang telah kami perjuangkan.

Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya pendatang, tapi kami tahu bagaimana membuat hidup ini menjadi lebih berarti dan dihargai. Kami telah tunjukan bagaimana kami berjuang lebih keras dalam hidup ini.

Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya numpang, tapi kami telah tunjukan bahwa kami bukan penumpang gelap yang tak membayar. Kami telah tunjukan bahwa kami juga adalah pejuang yang gigih dan kami adalah penurut. Banyak dari kami juga ikut berjuang bahu membahu dengan para pejuang lain.

Kami ini adalah keturunan pengusaha ulet yang menganggap uang bukan jatuh dari langit, tapi harus dibayar dengan keringat dan kadang dengan air mata maupun darah.
Tapi ada yang mengutuki kami, mengapa negeri ini penuh dengan keturunan kami yang sukses. Ada yang tidak senang dan mengiri akan kesuksesan kami.

Bukan kami menjauhkan diri kami dan anak kami dari pergaulan, tapi karena kami hanya ingin agar anak2 kami lebih terjaga.

Kami bukannya sombong dan kami sama sekali bukanlah orang yang pembenci sesama,
tapi kami hanya ingin hidup seperti apa yang nenek moyang kami ajarkan,

"JANGAN PERNAH MEMINTA, TAPI BERUSAHALAH"

Bukan kami tak mencintai negeri ini. Percayalah! Hati kami telah tertaut dan milik Negeri ini. Kami ini ditakdirkan lahir di Negeri ini, mencari hidup dan ingin mati di negeri ini.
Tapi ada sebagian orang yang membenci kami dan bahkan ingin menyakiti kami .

Percayalah...
Kami ini hanya berkorban, kami hanya berbuat yang terbaik untuk anak-cucu kami.
Kami ini berjuang dari kemiskinan untuk mencapai kemakmuran.
Kami ini tidak pernah meminta semua itu dengan gratis.
Kami membayar apa yang harus kami bayar.

KAMI KETURUNAN TIONGHOA, KAMI BANGGA

Meski kami kenyang tapi kadang tidur kami tak nyenyak, kami dalam ketakutan. Takut diserbu dan kembali disakiti. Sering kami dihantui mimpi buruk. Rumah dan harta bisa hilang, bahkan nyawa pun bisa melayang.
Kadang kami merasa berdiri diatas Bom Waktu yang bisa meledak setiap saat.
Kami telah terlahir di Indonesia, kebanggaan dan Tumpah Darah kami tentulah INDONESIA.

Jangan tanya Tuhan kenapa kami dilahirkan disini,
Jangan lagi bicara sipitnya mata kami ,
Jangan lagi bicara kuningnya kulit kami,
Jangan lagi masalahkan kesukuan kami ,
Jangan lagi ada rasa curiga
Jangan lagi ada rasa permusuhan
Jangan lagi ada rasa kebencian
Karena Tumpah Darah kami tetaplah INDONESIA,
Karena minum kami adalah air INDONESIA,
Makan kamipun juga nasi INDONESIA,
Maka Darah kami pastilah juga Darah INDONESIA.

Sekarang... Zaman telah berganti, penguasa juga telah datang dan pergi.
Sekarang... Kita lupakan masa lalu yang menyeramkan dan sangat kelabu.
Sekarang... Jangan lagi ada Tragedi yang menyayat banyak hati.
Sekarang... Sa’atnya kita lupakan dan hilangkan masalah kesukuan.
Sekarang... Sa’atnya kita semua bersatu padu membangun Negeri.
Sekarang... Sa’atnya kita angkat Negeri tercinta ini dari kemiskinan.
Sekarang... Sa’atnya kita galang semangat Persatuan dan Kebersamaan.
Sekarang... Sa’atnya kita kembangan bersama wawasan Kebangsaan kita.
PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA

Dikutip dari Catatan Facebook

13 comments:

DuniaPiyen said...

Sebagai manusia seharusnya kita memang harus saling menghormati meskipun berbeda SARA....

joe said...

di manapun kita berada perbedaan selalu akan ada, yang penting adalah bagaimana memandang setiap perbedaan itu secara bijak....

Anonymous said...

Jawaban besar bagi mereka yg bertanya dan reminder bagi tg lupa bahwa kemakmuran memang tidak jatuh dari langit. saodaraku...engkau telah memberi pelajaran besar

Syahrul Galih Wijaya said...

Saya seorang muslim, keturunan jawa kakek, nenek, ayah, ibu, semuanya berdarah jawa dan muslim. Kadang saya juga merasakan apa yang Anda rasakan, mungkin kami ada ditebing seberang yang tak kalah curamnnya, Saya juga memiliki harapan seperti harapan saudara tionghoa, sejahtera, makmur, aman, tentram. Iri dan dengki tidak ada hubungannya dengan sara, semua manusia telah ditakdirkan memilikinya itu dimanapun dia berada.
Saya pernah iri ketika kakak saya mendapat baju lebih bagus dari yang saya dapat,
Saya pernah iri saat adik perempuan saya mendapat susu lebih banyak setiap paginya.

Biarkan kami mengenal kalian lebih dalam dan kenaliliah kami lebih jauh, semoga masa depan bisa lebih baik.

Anthony Harman said...

To Syahrul Galih Wijaya:
Terima kasih atas komentar anda, mas. Semoga, mulai saat ini kita menjadi saling mengenal satu sama lain, menembus dinding yang selama ini memisahkan kami

samsul huda said...

Urun rembuk mas.Langsung saja ya?
Saya bisa memahami perasaan anda,dan saya juga mengerti apa apa yang telah anda alami dan lakukan.Saya juga merasa prihatin melihat kondisi mental sebagian saudara kita yang iri dengan kesuksesan anda.Tapi mereka tak bisa disalahkan sepenuhnya.Mereka juga korban.Mereka korban dari ketidakadilan negeri ini.Mereka merasa bahwa kesuksesan yang telah anda nikmati bukan sekedar hasil dari kerja keras,kegigihan dan keuletan semata,tapi juga hasil dari KKN.Anda dan orang orang lain mereka anggap sebagai rakus,menghalalkan segala cara dan tidak jujur.

Mario Tegar said...

tulisan yang bagus...
Saya sendiri masih berdarah asli tionghua,
Tapi sampai akhir hayat saya tetap akan menjadi
"WARGA NEGARA INDONESIA"
Semoga dengan ke beragaman suku bangsa INDONESIA dapat menjadikan bangsa ini BANGSA YANG BESAR.

Anonymous said...

stuju mas....memang terkadang orang tidak pernah tau kita makan atau tidak, dan terkadang org hanya melihat org disaat sudah diatas...tp ngomong boleh ga saya minta ilmunya biar biar bisa ikut sukses jg..saya baru muai merintis usaha mas..tx

Anthony Harman said...

To Anonymous:
Ilmu apa, mas? lah wong saya sendiri masih belum sukses koq. Hahahaha...

Anonymous said...

"Bukan menjauhkan diri kami dan anak2 kami dari pergaulan, tapi karena kami hanya ingin agar anak2 kami lebih terjaga." Pernyataan inilah yg sebenarnya awal dari jurang pemisah antara pri dan non pri, krn sejak masa anak2 dibuat eksklusif dg dalih "menjaga", budaya Indonesia adalah gotong royong, dan perjuangan mencapai kemakmuran diri memang berat, setelah makmur tercapai jangan hanya mementingkan diri sendiri/golongan. Kapan anda punya empati thd rakyat Indonesia yg jauh dari kemakmuran. Buktikan!!!

Anthony Harman said...

To Anonymous: Anda salah, bro. Ketika saya kanak2, ortu saya sama sekali tidak pernah mengajarkan kepada saya, apa itu pri dan non pri. Lingkunganlah yang membuat kami tau, bahwa kami memang "dibedakan"

Hengki said...

Saya Pribadi Keturunan Tionghoa dan saya sangat Terharu melihat tulisan ini , karena ini benar2 mencerminkan suara hati kita (warga Keturunan Tionghoa)
Bersyukur sekarang rasisme sudah agak berkurang, dan Bersyukur jiwa toleransi mulai terbangun = saling belajar dan saling memahami.
Semoga ke depannya jauh lebih baik lagi, terutama di daerah kumuh seperti di jakarta, karena masih ada beberapa yang rasis dan tidak segan memaksa meminta sumbangan dengan berbagai alasan kepada kami.

Jasa SEO Murah said...

manfaat layanan service kami Jasa SEO Jakarta untuk menunjang website Butik Fashion atau mungkin ingin submit artikel di Free Submit Bookmark dan jika ingin Design Website silahkan menghubungi kami Jasa SEO Murah

untuk informasi seputar berita mengenai Info Lifestyle atau di sini Info Lifestyle

Post a Comment

Gimana pendapat anda? Kasih komentarnya donk...

Kasih Comment, Bonus Link loh!!
(Tolong ingetin kalo kelupaan...)